Pekik Sumpah Pemuda bergema di Lapangan Merdeka Medan pada peringatan ke-81 Sumpah Pemuda 28 Oktober 2009 di tingkat Provinsi Sumatera Utara. Di antara para pemuda yang berbaris rapi itu, sejumlah pemuda mengenakan busana daerah membacakan teks sumpah pemuda dengan pimpinan upacara Gubernur H Syamsul Arifin.
Peringatan Sumpah Pemuda seperti ini tidak hanya digelar di Sumatera Utara tapi juga di daerah-daerah di Indonesia lainnya sebagai peristiwa nasional yang dianggap sebagai salah satu tonggak sejarah yang sangat penting di Indonesia yang dirancang untuk mengingatkan 'jasa besar' pemuda-pemudi Indonesia dimasa lalu.
Namun di kalangan pelajar maupun mahasiswa, makna Sumpah Pemuda itu kini dinilai sudah mulai meluntur.Pemuda zaman sekarang sangat jarang sekali bergotong royong untuk kepentingan bersama, malah ada di antara mereka berjalan sendiri- sendiri untuk mencapai tujuannya masing-masing.
Ungkapan miris ini dinyatakan Gubernur Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Al Amin kepada Global, Jumat (30/10). Menurutnya, saat ini banyak pemuda terkesan tidak pedulian dan mementingkan dirinya sendiri.
"Kondisi seperti itu dinilainya sangat terasa terutama di kota-kota besar yang di antara pemuda-pemudi sudah tidak ada semangat kebersamaan. Mungkin karna faktor pendidikan zaman sekarang umumnya penerapan solidaritasnya menjadi berkurang," ujar Amin.
Karena itu Amin menilai, untuk mengingat sejarah dan mengenang 'jasa besar' pemuda-pemudi dari berbagai daerah di Indonesia di masa lalu yang bersatu mengusir kaum penjajah, maka perlu ditanamkan pelajaran sejarah itu sejak pendidikan di usia dini, hingga ke tingkat pendidikan tinggi. Dengan demikian kaum pemuda itu akan menyadari makna kebersamaan meskipun dari berbeda suku, agama maupun ras.
Hal senada juga dikatakan Neli, mahasiswi Fakultas Kedokteran USU. Bagi mahasiswi etnik Tionghoa ini, makna sumpah pemuda itu kini tidak bergaung lagi.
Salah satu yang diterapkan Neli dalam kehidupannya sebagai warna negara Indonesia, meski dia berasal dari etnik Tionghoa, tapi dia sangat jarang sekali berbicara dengan sesamanya dalam bahasa "Ibu" jika sedang tidak berada di lingkungannya. Jadi tidak heran kalau Neli mengaku teman-temanya kuliah maupun di sekitarnya lumayan banyak.
"Memang masih ada pemuda peduli dengan lingkungan di sekitarnya, namun itu masih sangat kecil jumlahnya dibandingkan pemuda yang lebih banyak kesan cueknya," ucap alumni SMA Sutomo 1 Medan ini.
Bagi Neli, sumpah pemuda itu hendaknya bisa lebih dimaknai lagi jika ditumbuhkan akan kecintaan kepada bangsa ini melalui pelajaran di sekolah terhadap perjuangan dan pengorbanan para pemuda pada masa lalu.
Selain itu Neli juga berharap ke depan pemerintah agar tidak membeda-bedakan pemuda dari etnik, agama dan golongannya. Sebab semua pemuda di Indonesia ini sama-sama memiliki hak dan kewajibannya sebagai warga negara.
Sedangkan Tika Armayani, siswi SMKN 5 Medan mengaku mengetahui adanya peringatan sumpah pemuda, namun dia tidak tahu makna sumpah pemuda dalam kehidupannya.
Sebagai pelajar, Tika sadar pada isi sumpah pemuda itu mencakup tentang berbangsa satu, bertanah air satu dan berbahasa satu, yaitu Indonesia. Namun kenyataannya sumpah pemuda tersebut sekarang tidak nyata lagi. Salah satu bukti, tidak jarang ada kejadian yang memerlukan tindakan gotong royong, tapi tidak teralisasi dalam pelaksanaannya.
Pengamat sosial Prof Zulkarnain Lubis mengatakan, isi dari sumpah pemuda itu masih tetap relevan sampai dengan sekarang dan masa yang akan datangsebagai pengrajut dan pemersatu bangsa ini. Karena itu nilai-nilai yang terkandung dalam sumpah pemuda harus tetap dilestarikan dan dipertahankan serta diteruskan kepada generasi muda dan generasi mendatang.
Mantan Rektor UMA ini mengaku, belakangan ini pemersatu bangsa mulai mengancam dan dikhawatirkan merusak sendi-sendi kehidupan persatuan dan kesatuan, bahkan masalah agama selalu dipertentangkan.
"Memang agama itu suatu yang sakral, tapi itu urusan pribadi. Jadi jika kita terus mempertentangkan agama, saya rasa kita tidak akan aman. Karena itu berikan kebebasan orang untk menjalankan agamanya demikian juga dengan perbedaan etnik.
Salah satu bentuk mulai lunturnya nilai-nilai sumpah pemuda itu, kata Zulkarnain adalah pada pelaksanaan pemilihan kepala daerah ataupun pemilu.
"Bukan tidak mungkin pilkada itu dikhawatirkan menimbulkan perpecahan antar berbagai etnik. Sebab dalam pelaksanaannya selalu membawa-bawa etnis dan agama untuk mendapatkan dukungan.
Zulkarnain menyebutkan, sebentar lagi pemilihan Walikota Medan akan dilaksanakan. Pada situasi seperti ini dia menilai banyak yang melanggar dari nilai-nilai terkandung dalam sumpah pemuda itu karena selalu membawa-bawa etnis dan agama.
"Itu selalu yang dibesar-besarkan masyarakat dalam indikator memilih orang. Padahal semangat sumpah pemuda tidak mengenal itu. Sebab apapun agama dan etniknya tidak menjadi pertimbangan utama untuk memilih kepala daerah atau jabatan apapun. Hal ini bahaya juga untuk ke depan," ucap Zulkarnain.
Demikian juga dengan penggunaan bahasa asing. Masih ada di masyarakat ini yang berbicara di tempat-tempat formal menggunakan bahasa asing, karena ingin disebut elite, sehingga bahasa Indonesia dihapus.
"Saya tidak apriori terhadap bahasa asing, malah kita harus mampu mengasai bahasa asing tersebut. Tapi jika penggunaannya tidak pada tempatnya karena ingin merasa 'gagah-gagahan', maka hal ini dikhawatirkan menimbulkan bahaya juga untuk ke depan," ucap Zulkarnain.
Zulkarnain menilai, penghargaan terhadap bahasa Indonesia masih kurang. Misalnya saja, banyak kata-kata asing yang seakan sudah menjadi baku di negara ini, di antaranya kata laundry, supermarket dan lainnya lagi.
"Ke depan hal itu harus kita pikirkan ulang bagaimana mengatasinya. Melalui sumpah pemuda, mari kita kembali menghayati,merenungkan betapa luhurnya hal-hal yang terkandung dalam sumpah pemuda tersebut," katanya.
Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Percut Sei Tuan, peringatan sumpah pemuda bukan saja diperingati, tapi disertai juga dengan dirangkai dengan kegiatan kreativitas pemuda.
"Untuk memperingati hari sumpah pemuda itu, kami menggelar lomba keterampilan siswa dengan melibatkan 244 siswa se-kabupaten Deliserdang pada hari ini, Sabtu (31/10)," ujar Kepala SMKN 1 Percut Sei Tuan Drs Jaswar MPd.
Menurutnya, untuk menanamkan makna sumpah pemuda di kalangan para siswa, sekolah mengajarkan sejarah melalui pendidikan kewarganegaraan.
Jaswar menilai, nilai-nilai luhur dari sumpa pemuda itu terlihat nyata di sekolahnya. Terbukti, sampai saat ini tidak pernah ada perbedaan antarsiswa dari berbagai etnik maupun agama. Hal ini telah diterapkan sejak mulai masuk sekolah pada masa orientasi sekolah (MOS) dengan menanamkan nilai-nilai seni dan budaya serta bahasa.
"Bahkan siswa di SMK ini yang dominan kaum pria juga diajarkan kebudayaan daerah dengan mengajari tarian-tarian daerah dari Indonesia," kata Jaswar.
Untuk itu makna dari sumpah pemuda itu perlu terus ditanamkan kepada para siswa sebagai generasi penerus bangsa. Jaswar juga berharap melalui sumpah pemuda diharapkan dapat meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan antarsesama siswa maupun guru.
sumber : http://www.harian-global.com/
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Jumat, 29 Oktober 2010
Sejarah Peringatan Sumpah Pemuda
Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat. Sehingga menghasilkan Sumpah Pemuda.
Rapat Pertama, Gedung Katholieke Jongenlingen Bond
Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, Soegondo berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Jamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.Rapat Kedua, Gedung Oost-Java Bioscoop
Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.
Rapat Ketiga, Gedung Indonesisch Huis Kramat
Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.
Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu “Indonesia” karya Wage Rudolf Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia, berbunyi :
PERTAMA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA,
MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE,
TANAH INDONESIA.
KEDOEA
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA,
MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE,
BANGSA INDONESIA.
KETIGA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN,
BAHASA INDONESIA
Rapat Pertama, Gedung Katholieke Jongenlingen Bond
Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, Soegondo berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Jamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.Rapat Kedua, Gedung Oost-Java Bioscoop
Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.
Rapat Ketiga, Gedung Indonesisch Huis Kramat
Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.
Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu “Indonesia” karya Wage Rudolf Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia, berbunyi :
PERTAMA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA,
MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE,
TANAH INDONESIA.
KEDOEA
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA,
MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE,
BANGSA INDONESIA.
KETIGA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN,
BAHASA INDONESIA
sumber : http://www.akujagoan.com/2010/10/sejarah-sumpah-pemuda.html
Sejarah SMA Negeri 1 Bontang
SMA Negeri 1 Bontang didirikan oleh pemerintah daerah setempat Bontang pada tanggal 10 Nopember 1984 dengan lokasi di Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 59 Kelurahan Bontang Baru Kecamatan Bontang Utara. Lokasi SMA Negeri 1 Bontang memang cukup strategis. Bertempat di jalan utama menuju Bontang Kuala yang merupakan pusat wisata Bahari di Kota Bontang sehingga memudahkan sarana transportasi bagi siapa saja yang ingin mengunjungi SMA N 1 Bontang. SMA Negeri 1 Bontang ditunjuk oleh Dirjen Dikmenum sebagai Sekolah Piloting untuk pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) bersama 40 sekolah diseluruh indonesia, dan sekarang ditunjuk lagi sebagai sekolah rintisan Sekolah Berstandar Internasional (SBI) bersama 5 Sekolah di Kalimantan Timur. Ini merupakan suatu prestasi besar sekaligus amanah yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya guna mewujudkan visi dan misi SMA Negeri 1 Bontang serta tujuan Pemerintah Kota Bontang yaitu Bontang Cerdas 2010 serta tujuan bangsa yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa .
Jabatan Kepala Sekolah SMAN 1 diduduki pertama kali oleh Bapak Abdul Muis setelah 5 tahun menjabat kemudian digantikan oleh (Alm)Bapak Muhammad Nasir . setelah itu digantian oleh Bapak Anwar Sanusi. Selama masa jabatan,beliau pernah menerapkan prinsip di SMAN 1 Bontang yaitu The winner of year. Maksud dari prinsip tersebut ialah beliau ingin SMAN1 selalu meraih kemenangan dalam setiap perlombaan.setelah masa jabatan beliau habis,jabatan tersebut digantikan oleh (Alm)Ibu Kristanti. Namun jabatan tersebut tidak berlangsung lama dikarenakan (Alm)Ibu Kristanti telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Sebelum menjadi Kepala Sekolah SMAN1,(Alm)Ibu Kristanti pernah menjadi guru matematika di SMAN1 Bontang. Di mata murid-muridnya Beliau dipandang sebagai guru yang pandai dan ahli dalam mengajar matematika. Ketika (Alm)Ibu Kristanti dipanggil oleh Yang Maha Kuasa,jabatan Kepala Sekolah SMAN1 digantikan oleh Ibu Titi Wurdiyanti.
Sejak SMA Negeri 1 Bontang berdiri SMAN 1 banyak digemari oleh siswa-siswi dari luar kota Bontang yang umumnya berasal dari kabupaten-kabupaten dalam wilayah Kalimantan Timur sendiri seperti Kutai Kertnegara, Kutai Timur, Balikpapan, Samarinda bahkan ada pula yang berasal dari Pulau Jawa.
Dalam perkembangannya, SMAN 1 tleah banyak mencatat sejarah prestasi baik akademik maupun non akademik. Prestasi ini diraih oleh siswa SMAN1 sendiri. Banyaknya prestasi yang diraih menunjukkan bahwa dari dulu SMAN1 tlah mampu bersaing dengan sekolah lain di bontang baik swasta maupun negeri.Contohnya Pada ujian akhir nasional (UAN) tahap II tahun 2005 hingga tahun 2009, SMA Negeri 1 Bontang termasuk salah satu dari dua sekolah di kota bontang yang tidak menyertakan siswanya untuk ikut serta karena lulus 100 persen.
Dalam hal pengajaran,SMAN1 tidak hanya mengajarkan pengetahuan akademik saja kepada siswanya tatapi juga meembantu siswanya dalammenggali dan mengembangkan bakatnya contohnya dalam pelajaran di bidang seni dan ekskul. Dalam hal ini siswa dituntut untuk Aktif, produktif, inovativ, energiik,dan kreatif.
copyright © http://www.sman1-btg.sch.id
Langganan:
Postingan (Atom)

